Radio Frequency Identification Technology

RFID - Radio Frequency Identications Enhance Technology of Barcode and Smart Card, RFID for Airport, Inventory, Asset Management,Parking, Hospital, Educations and others

Radio Frequency Identification Technology

RFID - Radio Frequency Identications Enhance Technology of Barcode and Smart Card, RFID for Airport, Inventory, Asset Management,Parking, Hospital, Educations and others

Radio Frequency Identification Technology

RFID - Radio Frequency Identications Enhance Technology of Barcode and Smart Card, RFID for Airport, Inventory, Asset Management,Parking, Hospital, Educations and others

Radio Frequency Identification Technology

RFID - Radio Frequency Identications Enhance Technology of Barcode and Smart Card, RFID for Airport, Inventory, Asset Management,Parking, Hospital, Educations and others

Radio Frequency Identification Technology

RFID - Radio Frequency Identications Enhance Technology of Barcode and Smart Card, RFID for Airport, Inventory, Asset Management,Parking, Hospital, Educations and others

The title of your home page You could put your verification ID in a comment

Tuesday, November 29, 2011

Ubiquitous Computing – Era Ketiga dari Revolusi Komputer

Walau sebagian besar masyarakat umum belum menyadarinya namun pada dasarnya saat ini kita telah berada di era ketiga dari revolusi komputer, yaitu era ubiquitous computing. Era di mana komputer dapat ditemukan di mana saja, di telepon seluler, toaster, mesin cuci, mesin game, bahkan pada kartu pintar (smart card). Bila pada era pertama dari revolusi komputer ditandai dengan komputer mainframe yang berukuran raksasa dan digunakan bersama-sama oleh banyak orang (one computer many people), era kedua ditandai dengan eksistensi dan perkembangan dari personal computer (one computer one person), maka pada era ketiga ini seseorang dalam kehidupannya sehari-hari dapat berinteraksi dengan banyak komputer (one person many computers). 1. Introduksi Istilah ubiquitous computing –selanjutnya dalam artikel ini akan disingkat sebagai ubicomp- pertama kali dimunculkan oleh Mark Weiser, seorang peneliti senior pada Xerox Palo Alto Research Center (PARC) pada tahun 1988 pada sebuah forum diskusi di lingkungan internal pusat riset tersebut. Istilah ini kemudian tersebar lebih luas lagi setelah Weiser mempublikasikannya pada artikelnya yang berjudul ”The Computer of the 21st Century” di jurnal Scientific American terbitan September 1991. Dalam artikelnya tersebut Weiser mendefiniskan istilah ubicomp sebagai: ”Ubiquitous computing is the method of enhancing computer use by making many computers available throughout the physical environment, but making them effectively invisible to the user” Apabila diterjemahkan secara bebas maka ubicomp dapat diartikan sebagai metode yang bertujuan menyediakan serangkaian komputer bagi lingkungan fisik pemakainya dengan tingkat efektifitas yang tinggi namun dengan tingkat visibilitas serendah mungkin. Weiser menjelaskan bahwa terminologi komputer dalam dunia ubicomp tidak terbatas pada sebuah PC, sebuah notebook, ataupun sebuah PDA tetapi berwujud sebagai macam-macam alat yang memiliki sifat demikian natural, sehingga seseorang yang tengah menggunakan ubicomp devices tidak akan merasakan bahwa mereka tengah mengakses sebuah komputer. Latar belakang munculnya ide dasar ubicomp berasal dari sejumlah pengamatan dan studi di PARC terhadap PC, bentuk komputer yang paling dikenal luas oleh masyarakat. PC yang mempunyai kegunaan dan manfaat demikian besar ternyata justru seringkali menghabiskan sumberdaya dan waktu bagi penggunanya, karena PC membuat penggunanya harus tetap berkonsentrasi pada unit yang mereka gunakan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, PC justru membuat mereka terisolasi dari aktifitas lainnya. Dengan kata lain dibanding menghemat sumberdaya dan waktu untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, PC justru menambah beban untuk tetap menjaga konsentrasi dan fokus pemikiran kita pada sang alat. Segala fokus dan sumberdaya ini akan tersedot secara berlipat ganda oleh PC apabila terjadi permasalahan yang mengarah pada teknologi, semacam serangan virus atau kerusakan teknis. Untuk lebih memahami ubicomp kita dapat memandang konsep Virtual Reality (VR) sebagai kebalikan 1800 darinya. Konsep dasar VR adalah mencoba membuat suatu dunia di dalam komputer. Pengguna memakai berbagai macam alat semacam VR goggles, body suit, atau VR glove yang dapat menerjemahkan gerakan mereka sehingga dapat digunakan untuk memanipulasi obyek virtual. Meski VR membawa penggunanya untuk menjelajahi alam realitas melalui simulasi, misalnya pada simulasi penjelajahan di luar angkasa, VR tidak dapat dipungkiri tetap sebuah peta dan bukan sebuah area di dunia nyata. VR mengabaikan orang-orang di sekitar user, mengabaikan bangku tempat duduk user, dan berbagai aspek nyata lainnya. Dapat dikatakan bahwa VR berfokus pada usaha mensimulasikan dunia nyata ke dalam komputer dibanding memanipulasi secara langsung object atau state dunia nyata untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Di lain pihak ubicomp justru berusaha memanipulasi object dan state di dunia nyata untuk menyelesaikan permasalahan yang nyata pula. Contoh berikut ini akan menjelaskan bagaimana ubicomp dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari: Suatu ketika tersebutlah seorang engineer di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Dia berangkat kerja dengan mobilnya melewati jalan tol modern tanpa penjaga pintu tol. Mobil sang engineer telah dilengkapi dengan sebuah badge pintar berisi microchip yang secara otomatis akan memancarkan identitas mobil tersebut pada serangkaian sensor saat melewati pintu tol seperti tampak pada gambar 1. Pembayaran jalan tol akan didebet langsung dari rekeningnya setiap minggunya sesuai data yang di-update setiap mobilnya melewati pintu tol dan disimpan dalam komputer pengelola jalan tol.
Saat mobilnya mendekati pintu kantor, sensor pada gerbang pagar kantor mengenali kendaraan tersebut berkat pemancar lain yang terdapat di mobil tersebut dan secara otomatis membuka gerbang. Pada kartu pegawai sang engineer terpasang device pemancar yang secara otomatis akan mengaktifkan serangkaian sensor pada saat ia memasuki kantor. Pintu ruang kerjanya akan terbuka secara otomatis, pendingin ruangan akan dinyalakan sesuai dengan suhu yang nyaman baginya dan mesin pembuat kopi pun menyiapkan minuman bagi sang engineer. Meja kerja sang engineer dilapisi sebuah pad lembut yang mempunyai berbagai fungsi. Saat ia meletakkan telepon selulernya di pad tersebut, secara otomatis baterai ponsel tersebut akan diisi. Jadwal hari tersebut yang sudah tersimpan dalam ponsel akan ditransfer secara otomatis ke dalam komputer dengan bantuan pad tersebut sebagai alat inputnya. Misalkan di hari tersebut ia telah mengagendakan rapat bersama para stafnya maka komputer secara otomatis akan memberitahukan kepada seluruh peserta rapat bahwa rapat akan segera dimulai. Contoh di atas tidak memerlukan sebuah penemuan teknologi revolusioner, tidak ada algoritma kecerdasan buatan yang rumit atau alat-alat dengan teknologi seperti pada film-film fiksi ilmiah yang tidak terjangkau oleh kenyataan. Charger pad untuk telepon seluler seperti pada gambar 2 misalnya, saat ini merupakan sebuah alat yang telah diproduksi secara komersial. Apabila charger tersebut diberi suatu fitur yang dapat mentransfer data dari telepon seluler ke komputer maka sempurnalah fungsinya sebagai sebuah contoh ubicomp device. Dengan teknologi mikro dan nano saat ini satu buah kartu pegawai yang kecil dan pipih dengan beberapa microchip dapat berfungsi sebagai pemancar sekaligus media penyimpanan data. Reaksi alat-alat semacam pad, pendingin ruangan, pintu otomatis, dan sebagainya dapat diatur dengan serangkaian perintah IF-THEN yang sederhana. Untuk komunikasi antar alat atau dari pemancar menuju sensor hanya dibutuhkan teknologi wireless biasa yang saat ini pun sudah umum digunakan. Ubicomp menjadi inspirasi dari pengembangan komputasi yang bersifat “off the desktop”, di mana interaksi antara manusia dengan komputer bersifat natural dan secara perlahan meninggalkan paradigma keyboard/mouse/display dari generasi PC. Kita memahami bahwa jika seorang manusia bergerak, berbicara atau menulis hal tersebut akan diterima sebagai input dari suatu bentuk komunikasi oleh manusia lainnya. Ubicomp menggunakan konsep yang sama, yaitu menggunakan gerakan, pembicaraan, ataupun tulisan tadi sebagai bentuk input baik secara eksplisit maupun implisit ke komputer. Salah satu efek positif dari ubicomp adalah orang-orang yang tidak mempunyai keterampilan menggunakan komputer dan juga orang-orang dengan kekurangan fisik (cacat) dapat tetap menggunakan komputer untuk segala keperluan. Dua contoh awal dari pengembangan ubicomp adalah Active Badge dari Laboratorium Riset Olivetti dan Tab dari Pusat Riset Xerox Palo Alto. Active Badge dikembangkan sekitar tahun 1992, berukuran kira-kira sebesar radio panggil (pager), alat ini terpasang di saku pakaian atau sabuk para pegawai dan digunakan untuk memberikan informasi di mana posisi seorang karyawan dalam kantor, sehingga saat seseorang ingin menghubunginya lewat telepon secara otomatis komputer akan mengarahkan panggilan telepon ke ruang di mana orang tersebut berada. Sedangkan Xerox PARC Tab yang juga dikembangkan pada sekitar tahun 1992 adalah sebuah alat genggam (handheld) dengan kemampuan setara dengan sebuah communicator. Patut diingat kedua alat ini diciptakan sekitar 15 tahun lalu dan bahkan sempat diproduksi secara komersial jauh sebelum era telepon seluler 3G yang tengah kita alami saat ini. 2. Aspek-aspek yang Mendukung Pengembangan Ubiquitous Computing Sebagai sebuah teknologi terapan ataupun sebagai sebuah cabang dari ilmu komputer (Computer Science) pengembangan ubicomp tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek ilmu komputer yang lain. Aspek-aspek penting yang mendukung riset pengembangan ubicomp adalah: Ø Natural Interfaces Sebelum adanya konsep ubicomp sendiri, selama bertahun-tahun kita telah menjadi saksi dari berbagai riset tentang natural interfaces, yaitu penggunaan aspek-aspek alami sebagai cara untuk memanipulasi data, contohnya teknologi semacam voice recognizer ataupun pen computing. Saat ini implementasi dari berbagai riset tentang input alamiah beserta alat-alatnya tersebut yang menjadi aspek terpenting dari pengembangan ubicomp. Kesulitan utama dalam pengembangan natural interfaces adalah tingginya tingkat kesalahan (error prone). Dalam natural interfaces, input mempunyai area bentuk yang lebih luas, sebagai contoh pengucapan vokal “O” oleh seseorang bisa sangat berbeda dengan orang lain meski dengan maksud pengucapan yang sama yaitu huruf “O”. Penulisan huruf “A” dengan pen computing bisa menghasilkan ribuan kemungkinan gaya penulisan yang dapat menyebabkan komputer tidak dapat mengenali input tersebut sebagai huruf “A”. Berbagai riset dan teknologi baru dalam Kecerdasan Buatan sangat membantu dalam menemukan terobosan guna menekan tingkat kesalahan (error) di atas. Algoritma Genetik, Jaringan Saraf Tiruan, dan Fuzzy Logic menjadi loncatan teknologi yang membuat natural interfaces semakin “pintar” dalam mengenali bentuk-bentuk input alamiah. Ø Context Aware Computing Context aware computing adalah salah satu cabang dari ilmu komputer yang memandang suatu proses komputasi tidak hanya menitikberatkan perhatian pada satu buah obyek yang menjadi fokus utama dari proses tersebut tetapi juga pada aspek di sekitar obyek tersebut. Sebagai contoh apabila komputasi konvensional dirancang untuk mengidentifikasi siapa orang yang sedang berdiri di suatu titik koordinat tertentu maka komputer akan memandang orang tersebut sebagai sebuah obyek tunggal dengan berbagai atributnya, misalnya nomor pegawai, tinggi badan, berat badan, warna mata, dan sebagainya. Di lain pihak Context Aware Computing tidak hanya mengarahkan fokusnya pada obyek manusia tersebut, tetapi juga pada apa yang sedang ia lakukan, di mana dia berada, jam berapa dia tiba di posisi tersebut, dan apa yang menjadi sebab dia berada di tempat tersebut. Dalam contoh sederhana di atas tampak bahwa dalam menjalankan instruksi tersebut, komputasi konvensional hanya berfokus pada aspek “who”, di sisi lain Context Aware Computing tidak hanya berfokus pada “who” tetapi juga “when”, “what”, “where”, dan “why”. Context Aware Computing memberikan kontribusi signifikan bagi ubicomp karena dengan semakin tingginya kemampuan suatu device merepresentasikan context tersebut maka semakin banyak input yang dapat diproses berimplikasi pada semakin banyak data dapat diolah menjadi informasi yang dapat diberikan oleh device tersebut. Ø Micro-nano technology Perkembangan teknologi mikro dan nano, yang menyebabkan ukuran microchip semakin mengecil, saat ini menjadi sebuah faktor penggerak utama bagi pengembangan ubicomp device. Semakin kecil sebuah device akan menyebabkan semakin kecil pula fokus pemakai pada alat tersebut, sesuai dengan konsep off the desktop dari ubicomp. Teknologi yang memanfaatkan berbagai microchip dalam ukuran luar biasa kecil semacam T-Engine ataupun Radio Frequency Identification (RFID) diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk smart card atau tag. Contohnya seseorang yang mempunyai karcis bis berlangganan dalam bentuk kartu cukup melewatkan kartunya tersebut di atas sensor saat masuk dan keluar dari bis setelah itu saldonya akan langsung didebet sesuai jarak yang dia tempuh. 3. Isu-isu Seputar Ubicomp Ø Security Ubicomp membawa efek meningkatnya resiko terhadap security. Penggunaan gelombang, infra merah, ataupun bentuk media komunikasi tanpa kabel lain antara alat input dengan alat pemroses data membuka peluang bagi pihak lain guna menyadap data. Sebagai implikasinya sang penyadap dapat memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan mereka. Saat ini berbagai riset tentang pengiriman data yang aman, termasuk penelitian terhadap protokol-protokol baru, menjadi salah satu fokus utama dari riset tentang ubicomp. Ø Privasi Penggunaan devices pada manusia menyebabkan ruang pada privasi semakin mengecil. Dengan alasan efisiensi waktu pegawai seorang pimpinan dapat meminta semua karyawannya memakai tag yang dapat memonitor keberadaan karyawan tersebut di kantor. Hal ini menyebabkan sang karyawan tidak lagi mendapatkan privasi yang menjadi haknya karena keberadaannya dapat dipantau setiap saat oleh sang pimpinan beserta data yang menyertainya, misalnya sang pimpinan menjadi dapat mengetahui berapa kali sang karyawan pergi ke toilet hari itu. Di dalam beberapa film fiksi ilmiah kita sering melihat bagaimana pemerintah suatu negara yang paranoid berusaha memberikan tag pada setiap warganya demi mendapatkan data dengan dalih keamanan nasional. Apabila tidak mempertimbangkan hak-hak privasi dan etika, dengan teknologi saat ini pun hal tersebut sudah dapat diaplikasikan. Ø Wireless Speed Dengan berbagai macam ubicomp devices tuntutan akan kecepatan teknologi komunikasi nirkabel menjadi sesuatu yang mutlak. Teknologi saat ini menjamin kecepatan ini untuk satu orang atau beberapa orang dalam sebuah grup. Tetapi ubicomp tidak hanya berbicara tentang satu device untuk satu orang, ubicomp membuat seseorang dapat membawa beberapa devices dan ubicomp juga harus dapat dimanfaatkan di area yang luas semacam stasiun, teknologi yang ada saat ini belum mampu menjamin kecepatan untuk situasi semacam itu karena itu ubicomp dapat menjadi tidak efektif apabila tidak didukung perkembangan teknologi nirkabel yang dapat menyediakan kecepatan yang dibutuhkan. Referensi: 1. www.ubiq.com Situs yang didirikan dan diasuh oleh Mark Weiser ini memuat kisah awal sejarah pengembangan ubiquitous computing sekaligus profil Mark Weiser sang pencetus ubicomp. 2. Charting Past, Present, and Future Research in Ubiquitous Computing Paper yang ditulis oleh Gregory D. Abowd dan Elizabeth D. Mynatt, dua orang pakar Interaksi Manusia dan Komputer dari Georgia Institute of Technology dan dipublikasikan pada ACM Transaction on Human Computer Interaction Volume 7 Tahun 2000 ini mendeskripsikan dengan jelas dan detail sejarah riset dan kondisi eksisting dari riset tentang ubicomp. 3. IEEE Pervasive Computing Majalah dua bulanan ini merupakan sumber berita tentang teknologi terbaru dari mobile dan ubiquitous system.

Sunday, November 13, 2011

Application: Parking Area Access Control Using RFID Tag Recognition

RFID technology is rapidly gaining ground in the access control industry. One area where it can provide significant advantages is in vehicle access control. Cars, trucks, or other vehicles--even forklifts in warehouse environments--can be tagged with passive RFID transmitters. When a restricted area, or a parking lot entrance, is approached, a reader at the site accesses the tag. If the vehicle is authorized, the gate opens and it is allowed to pass.

In the very simplest systems, the mechanism works in pass/fail mode--access granted or access denied. However, if the data from the tag can be connected with a database, functionality of the system is greatly enhanced. Clearly it is not practical or cost effective to locate a PC at each entry point where an RFID reader and the gate control mechanism are located. However, as both require an RS-232 serial connection to communicate with a computer, making input from them available across a network once required just that.
Now, with serial device servers, RS232 RFID readers and gate control mechanisms can be remotely monitored and controlled via Ethernet. The above diagram depicts a standard network-enabled RFID parking applications. This network-enabled configuration opens up many possibilities for RFID-based access control systems. For example, a prepaid account can be linked to the car's RFID tag. The RFID reader authorizes the car for entry, logs entry time, and transmits that data back to the server, then the gate mechanism is activated and the car enters. A similar exit point is configured, and when the car leaves the RFID reader logs exit time, releases the gate mechanism, and transmits the exit data back to the server. The customer's account is then debited for the time she spent in the parking lot. The advantages of this type of system include not only easy access for the customer, but the elimination of staffing at entry and exit points.

RFID to improve patient safety and hospital savings by RFID Gazette

Imagine the hospital of the future where unnecessary expenses will be cut and more patient lives will be saved. Say goodbye to the inefficiencies of the old hospital and welcome the new, highly cost-effective system of asset and personnel tracking, patient care, and billing, the keystone of which will be radio frequency identification technology.
RFID technology is already being deployed across the pharmaceutical industry to combat drug counterfeiting. The next frontier is the patient care center, in which the technology will be used to track medical instruments as well as patients and hospital personnel. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) has recently stated new safety goals that should further expedite the process of RFID implementation in this field. It is not difficult to conclude that RFID technology should become a critical success factor for the medical center of the 21st century in terms of both improved patient safety and improved hospital savings.
Parco Merged Media is one company that is focused on delivering this technology. They are a middleware and hardware provider of ultra wideband (UWB) tracking systems that concentrates exclusively on healthcare providers, i.e. doctors' offices and hospitals, according to Parco CEO Scott Cohen. The Parco Wireless Healthcare System (WHCS) is fully compliant with the IEEE 802.15.4 wireless standard.
In a remote demonstration using software proprietary to Parco, Cohen showcased his company's UWB Real Time Location System to the RFID Gazette from their 3,000-square-foot demonstration facility located in Portland, Maine. The Parco Wireless Solutions Center is a full-scale model replica of two hospital rooms and a hallway. During our demonstration, there were several items tagged with active UWB RFID chips whose movements we were able to track in real time. While Parco offers three-dimensional tracking, our demonstration tracked in only two dimensions.
The model hospital has one passive receiver located on each of the four sides of the facility. Each individual battery-powered UWB tag on an item actively transmits a signal to these receivers at a rate between one and four times per second. On average, each tag transmits approximately 1.5 MB of data per second. The four receivers then transmit this data to one central processor hub via a CAT-5 cable. Back in the RFID Gazette's Los Angeles office, we were able to track the movements of one particular tagged item using the Parco Trigger Demonstration software over the Internet.View screenshots 2 3 4.
What makes Parco's system unique is its application of UWB technology. Approved in June 2002 by FCC Chairman Michael Powell, UWB lends itself well to its use in hospitals and doctors' offices because unlike many other wireless technologies, UWB does not create interference with other devices.
There are several uses of RFID that will improve patient safety. Implanting chips inside surgical instruments will virtually eliminate the mistake of leaving an item inside of a sewn-up patient at the conclusion of an operation. RFID labels can also be attached to the patients themselves to verify their identities, location and the exact procedure to be performed by the hospital staff. Patients can also be more effectively tracked by billing systems to ensure that the hospital does not lose track of any charges incurred.
Parco's website claims that having the ability to track assets in real time will greatly reduce the number of IV pumps needed on site per day, enabling the average hospital to save more than $2 million per year. Comparable savings can be applied to other medical equipment, such as pulse oximeters, EKG machines and wheelchairs.
Cohen says that Parco is currently working on adding sensors to the tags. These sensors would be able to report important data regarding the environment, including temperature and humidity. Sensors could also be adapted to connect to medical instruments and report to medical staff in a remote location data about the patient, including heart rate, body temperature, etc. Tags on assets could be motion-sensitive so that they would only transmit data to the receivers while moving.
"The industry is just reaching the apex point where it's starting to take off," Cohen says. Right now, very few hospitals in the world even have barcodes on many of their assets. But with the ability to track assets in real-time with RFID, many expect that hospitals will eventually shift to this wireless tracking system.
According to Cohen, Parco is also looking at the personnel application side. Hospital managers need to have the ability to track where their personnel are located and exactly when they arrive to start work each day. Restricting access of certain areas to certain groups of people is also a major concern. UWB RFID personnel badges the size of a credit card can be tracked in real time just like any other asset as well as limit access of certain rooms to only those who have the appropriate requirements encoded on their badge's chip.
In addition, Parco has teamed up with the Washington Hospital Center in Washington, D.C. to integrate RFID asset tracking and security control into the next generation of emergency facilities. ER One will be an "all risks-ready" medical center to be prepared for any large-scale terrorist attack, including the use of bio-terrorism.

Thursday, November 10, 2011

Container Tracking: RFID vs Satellite ~ An Honest Evaluation

One recent article contrasting RFID and satellite tracking for cargo containers raised some interesting points. Unfortunately, instead of focusing on positive aspects of what satellite tracking could offer, it concentrated on making some fairly dubious assertions about the "faults" of RFID. So, what is the truth about satellite versus RFID for container tracking?

Satellite communications that go beyond mere GPS information can provide information not only about the location of a container but also about its environmental conditions, whether it has been tampered with, and other useful data. What's more, this can be achieved with in-transit containers virtually anywhere in the world. For some applications, such as tracking of munitions, hazardous materials, pharmaceuticals and other sensitive goods, having access to that kind of information in real time can enable the cargo's owner to take immediate corrective action (if any is possible).

For the majority of supply chain applications, however, access to this type of data at the point of receipt is perfectly adequate.

The issue isn't whether satellite communications between a container and a head office can offer benefits in certain applications, the issue is that the article misstates RFID's capabilities, costs and limitations with the intent of supporting the assertion that, "RFID is not good for global supply chain usage and satellite is good. In fact, RFID usage is actually dangerous for applications in U.S. seaports."

The article's review of the benefits of satellite is sketchy at best. The major support for its premise is based on a biased and, in some cases, untrue evaluation of RFID.

Technical applications: the article states that RFID cannot be used globally because there is no worldwide agreement on frequencies and hasn't been authorized for use in countries such as China. While true in some measure, the article overlooks the inconvenient and obvious fact that all major international trading countries including Japan and China have approved active RFID products operating at 433 MHz that are based on ISO 18000-7 standards. The global RF community is moving to authorize the common HF, UHF and microwave frequencies to enable RFID usage around the world. The frequency differences cited in the article apply to UHF, not in 433 MHz active tags. And, in any event, UHF systems are capable of handling those differences.

Infrastructure: the assertion that fixed location antennas might be difficult to place because of legal and operational issues is unsupported in real world application. Yard and port operators are installing various RFID reading systems to expedite shipments in and out of their facilities and to provide a value-add service to customers. Mounting readers on cranes and at certain locations at ground level address many reading needs. Readers on cranes and tugs can also provide absolute linking between container movement and the equipment or operator.

Timeliness & Features: it is true that RFID typically works by having goods and containers move past a reader and that RFID data logging and e-seals offer historical data. Satellite can transmit the occurrence of unwanted events in a far timelier manner. In some instances, this can trigger urgent, necessary responses. In other instances, however, having this data go from the container to a head office isn't a particularly efficient or even necessary scheme. Sometimes, having the container communicate directly with, say, the driver of a truck, is more efficient. If a refrigeration unit on a trailer fails, the driver, not the main office in some other state, is going to have to take corrective action.

Risks: the most specious statement made is that RFID is downright dangerous because RF signals used to interrogate container tags could be used by terrorists to trigger bombs inside containers (which assumes, somehow, an external antenna since the tag interrogator signals don't penetrate the container). And the article overlooks the fact that the supposed RF-sensitive device would have to be able to differentiate interrogation at the port of origin and the port of entry in order to be an effective threat. How that might be done, when the signal would be identical in both locations, is not explored. Thus, the "danger" posed by RFID is an entirely specious argument, possibly borrowed from the recently hyped hypothetical threat posed by RFID-enabled passports, and one that seriously undermines the credibility of the article.

Costs: the article states that costly handheld RFID readers will be necessary because the infrastructure will be unable to adequately track containers. While there will certainly be some requirement for hand held readers for e-seals, they are neither required nor desired for the majority of applications. And, while satellite linking doesn't require the same hardware infrastructure as RFID systems, it does require subscription to a service -- an ongoing, rather than a one-time cost.

The more significant problem with the cost analysis is a lack of understanding of the business case. Container owners, not shippers or consignees, must foot the bill for equipping containers with either RFID tags or satellite equipment. Port and yard operators pay for installation of RFID reading equipment. The benefit for both these parties is the more efficient transport of containers through the system -- freeing assets (containers) for reuse and reducing required storage space.

While some shippers and consignees could see some benefit from having real time data from containers, the majority would not. Most would not see any real benefits and would be reluctant to pay much, if any, additional fee. Thus, container owners would have little incentive to satellite enable their containers.

Finally, for ground transportation of containers, there is a growing use of GPS and other fleet and rail management tools that could provide much the same information as offered by satellite although, admittedly, the service is not generally available to customers at this point.

The fundamental structure of the article, as an attack on RFID rather than a real examination of the benefits of satellite, calls into question whether there are commercial rather than technical motives behind it -- particularly since the list of RFID's "flaws" had to be supported by dubious and erroneous statements.

Satellite does offer some real benefits. As does RFID. The nature of the shipment itself and whether corrective actions could be taken are the key factors in determining which system should be considered. Those are commercial motives that favor the customer (shipper and consignee), not a technology provider.

Write By Bert Moore

Thursday, November 3, 2011

Perdebatan tiada akhir antara RFID dan Teknologi Smart Card

Perdebatan tiada akhir antara RFID dan teknologi smart card adalah sebuah konstanta. Tidak ada definisi yang jelas yang menggambarkan RFID dan smart card, dan kadang-kadang kedua istilah ini digunakan bergantian karena kurangnya kesadaran, sehingga kebingungan perbedaan. Kebingungan ini sangat kuat antara contactless smart card dan RFID. Isu utama yang telah menyebabkan perdebatan ini adalah antarmuka contact-less dan juga RF (frekuensi radio) satu. Contactless smart card dan RFID digunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara kartu dan reader. Aplikasi yang digunakan oleh RF mungkin berbeda untuk RFID dan smartcard. RFID dirancang terutama untuk aplikasi dalam rantai pasokan, track and trace. Contactless smart card di sisi lain dirancang terutama untuk pembayaran / perbankan, transit umum, pemerintah dan ID dan kontrol akses. Artikel ini bertujuan untuk mengurangi kebingungan antara definisi dari dua teknologi.
Diagram berikut menggambarkan berbagai aplikasi contact less smart cards dan RFID, bersama dengan tingkat keamanan informasi.
RFID dan Smart Card dapat digunakan dalam aplikasi transit dan sering digunakan bersama-sama untuk memberikan kenyamanan yang lebih besar kepada pengguna akhir. Contoh ini terjadi pada kartu "Touch n Go" di Malaysia digunakan di jalan tol. Kartu Touch N Go adalah kartu contactless smart, tapi kartu ini dapat dibeli dengan tambahan transponder RFID (di mana anda dapat memasukkan smart card) sehingga reader pada loket tol dapat membaca kartu dari jarak lebih jauh dari biasanya yang hanya 10 cm sesuai standar kartu pintar. Tanpa transponder RFID tambahan, Touch n Go contactless smart card masih bisa digunakan, yang berarti bahwa pengemudi harus menurunkan kaca depan agar dapat menempelkan kartu pada reader, perbedaannya dengan RFID ialah dapat mendeteksi kendaraan dari jarak yang lebih jauh.

Tanggal dipublikasikan: 4 Oct 2006.
Disadur dari Parul Oswal.

Tuesday, November 1, 2011

Mengapa menggunakan RFID dan Mengapa menggunakan Barcode.

Mengapa menggunakan RFID dan Mengapa menggunakan Barcode.

Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) merupakan inti dari sebuah system Contactless Smart Card (CSC). Oleh karenanya diperlukan pengetahuan mengenai teknologi RFID untuk mendalami teknologi CSC. Pembahasan mengenai teknologi RFID pada kali ini akan ditinjau secara meluas dan tidak dibatasi pada aplikasi smart card.
Teknologi RFID pada dasarnya merupakan teknologi identifikasi secara automatis, pembahasan mengenai teknologi ini tak lepas dari teknologi identifikasi automatis lainnya yang sudah ada khususnya barcode.
Barcode merupakan teknologi identifikasi yang cukup banyak digunakan dan kini mulai tergeser fungsinya oleh teknologi RFID. Sehingga, pembahasan RFID tidak akan lepas dari keberadaan barcode khususnya pada bidang logistik dan inventori.
Teknologi ini dimanfaatkan dengan menempelkan barang atau produk dengan suatu kode digital berbentuk label barcode. Kode tersebut terhubung dengan basis data yang kemudian merepresentasikan keberadaan barang atau produk.
Barcode sebagai teknologi identifikasi pada implementasinya telah terbukti memberikan kontribusi efisiensi dan efektifitas cukup tinggi. Tetapi, hal ini tak terlepas dari kelemahannya yaitu kendala optis yang cukup mengganggu. Kelemahan ini disebabkan oleh karakteristik optis yang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat digunakan. Setidaknya diperlukan kondisi tatap muka (Line of Sight –LOS), posisi pembacaan yang akurat dan label kode yang bersih untuk pembacaan barcode yang sempurna. Bila salah satu kondisi tidak terpenuhi maka identifikasi akan gagal.

Perbandingan system RFID dengan Barcode

Mengapa RFID ? Mengapa Barcode ?
Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) merupakan inti dari sebuah system Contactless Smart Card (CSC). Oleh karenanya diperlukan pengetahuan mengenai teknologi RFID untuk mendalami teknologi CSC. Pembahasan mengenai teknologi RFID pada kali ini akan ditinjau secara meluas dan tidak dibatasi pada aplikasi Smart Card.Teknologi RFID pada dasarnya merupakan teknologi identifikasi secara automatis.
Pembahasan mengenai teknologi ini tak lepas dari teknologi identifikasi automatis lainnya yang sudah ada khususnya barcode.
Barcode merupakan teknologi identifikasi yang cukup banyak digunakan dan kini mulai tergeser fungsinya oleh teknologi RFID. Sehingga, pembahasan RFID tidak akan lepas dari keberadaan barcode khususnya pada bidang logistik dan inventori.
Teknologi ini dimanfaatkan dengan menempelkan barang atau produk dengan suatu kode digital berbentuk label barcode. Kode tersebut terhubung dengan basis data yang kemudian merepresentasikan keberadaan barang atau produk.
Barcode sebagai teknologi identifikasi pada implementasinya telah terbukti memberikan kontribusi efisiensi dan efektifitas cukup tinggi. Tetapi, hal ini tak terlepas dari kelemahannya yaitu kendala optis yang cukup mengganggu. Kelemahan ini disebabkan oleh karakteristik optis yang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat digunakan. Setidaknya diperlukan kondisi tatap muka (Line of Sight –LOS), posisi pembacaan yang akurat dan label kode yang bersih untuk pembacaan barcode yang sempurna. Bila salah satu kondisi tidak terpenuhi maka identifikasi akan gagal.

Perbandingan RFID dengan Barcode

Barcode RFID pasif
Kondisi pembacaan Line of Sight (LOS) Non-Los
Posisi pembacaan Vertikal atau horisontal dengan toleransi tertentu Bebas, segala kondisi memenuhi
Kecepatan pembacaan Relative (2-5 detik) < 100 milidetik
per item
Jarak maksimum pembacaan
± 7 cm (pendek) ± 30 cm (pendek)
± 3 m (menengah)
± 10 m (jauh)
Kemampuan Baca saja Baca dan/atau tulis
Kapasitas memori Kecil 64Kb atau lebih
Proses pembacaan Per item, memproses satu per satu Multi item (10,100,1000 unit) per proses
Kondisi
Merusak label barcode, pembacaan error Tidak berpengaruh
Kemudahan duplikasi Mudah Hampir mustahil

Perbandingan Sistem RFIDvsBARCODE

Apa itu RFID ?
RFID, adalah istilah umum untuk teknologi yang menggunakan gelombang radio untuk secara otomatis mengidentifikasi orang-orang atau benda. Adabeberapa metode identifikasi, tetapi yang paling umum adalahuntuk menyimpan nomor seri yang mengidentifikasi orang atau objek, dan mungkin informasi lain, pada microchip yang terpasang pada antena (chip dan antena bersama-sama disebut RFID transponder atau sebuah tag RFID). Antena memungkinkan chip untuk mengirimkan informasi identifikasi untuk pembaca.Reader mengubah gelombang radio yang dipantulkan kembali dari tag RFID menjadi informasi digital yang kemudian diteruskan ke komputer yang dapat memanfaatkannya.

Apakah RFID lebih baik dari barcode?
RFID tidak selalu "lebih baik" dari barcode . Keduanya adalah teknologi yang berbeda dan memiliki aplikasi yang berbeda,yang kadang-kadang tumpang tindih. Perbedaan besar antara keduanya adalah barcode harus “line-of-sight”. Artinya,scanner harus "melihat" barcode untuk membacanya, yang berarti orang biasanya harus mengarahkan barcode menuju scanner itu untuk dibaca. RFDI, sebaliknya tidak memerlukan “line of sight”. RFID tag dapat dibaca selama mereka berada dalam jangkauan reader. Barcode memiliki kekurangan lain juga. Jika label telah robek atau kotor atau telah jatuh, maka tidak ada cara untuk memindai item,dan barcode standar hanya mengidentifikasi produsen dan produk, bukan item yang unik. Barcode pada satu karton susu sama satu sama yang lain, sehingga mustahil untuk mengidentifikasi mana yang lebih dahulu tanggal kedaluwarsanya.


RFID akan menggantikan barcode?
Ini sangat tidak mungkin. barcode yang murah dan efektif untuk tugas-tugas tertentu, tapi RFID dan barcode akan hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Apakah RFID baru?
RFID merupakan teknologi yang telah terbukti setidaknya sejak 1970-an. Sampai sekarang, telah dianggap terlalu mahal dan terlalu terbatas untuk dijadikan aplikasi komersial. Tetapi jika tag dapat dibuat cukup murah, mereka dapat memecahkan banyak masalah yang terjadi pada barcode. Gelombang radio berjalanan melalui sebagian besar bahan non-logam, sehingga mereka dapat ditanam dalam kemasan atau terbungkus dalam plastik pelindung agar tahan cuaca dan daya tahan yang lebih baik. Dan tag memiliki microchip yang dapat menyimpan nomor seri yang unik untuk setiap produk yang diproduksi di seluruh dunia.